Apa Itu Melik: Menyingkap Misteri di Balik Kepercayaan Masyarakat Bali

Apa Itu Melik: Menyingkap Misteri di Balik Kepercayaan Masyarakat Bali
ilustrasi: Apa Itu Melik: Menyingkap Misteri di Balik Kepercayaan Masyarakat Bali (internesia Bali)

Beritakarya.id – Melik adalah istilah yang kerap didengar dalam masyarakat Bali, namun apa makna sebenarnya?

Mari telusuri bersama, mulai dari kepercayaan, penjelasan ilmiah, hingga pandangan para ahli.

Hening, malam kian larut di desa adat yang sunyi. Bisikan cerita tentang “melik” kembali berhembus, memicu rasa penasaran dan sedikit kegelisahan.

Benarkah “melik” adalah kematian misterius yang menimpa orang-orang istimewa, ataukah ada penjelasan lain?

“Melik” bukanlah kata asing bagi masyarakat Bali. Istilah ini merujuk pada kematian mendadak yang dianggap tidak wajar, seringkali menimpa individu muda dan sehat pada hari-hari tertentu yang dianggap “keramat” seperti Kliwon atau Tumpek Wayang.

Kepercayaan melik diwarnai dengan unsur mistis dan supranatural, dikaitkan dengan campur tangan makhluk halus atau ketidakseimbangan spiritual.

Namun, benarkah melik semata-mata fenomena gaib? Para ahli kesehatan dan antropologi menawarkan perspektif berbeda.

Penelitian medis menunjukkan, kematian mendadak dapat dipicu oleh kondisi kesehatan yang tidak terdeteksi seperti kelainan jantung, epilepsi, atau gangguan pembuluh darah.

Faktor stres dan kelelahan ekstrem juga bisa memicu serangan jantung fatal pada individu muda.

Lebih jauh, antropolog memandang melik sebagai produk budaya yang dipengaruhi oleh sistem kepercayaan masyarakat Bali.

Konsep “kala” atau waktu sakral, beserta kepercayaan terhadap kekuatan gaib, menciptakan kerangka pemahaman tersendiri atas kematian mendadak.

Melik menjadi cara masyarakat memahami dan memberi makna pada kejadian tragis yang kerap kali sulit diterima logika.

Lalu, bagaimana menyikapi melik?

Menghadapi cerita-cerita melik, penting untuk bersikap bijak dan kritis. Kepercayaan tradisional dihormati, namun perlu dibarengi dengan pemahaman kondisi medis yang bisa memicu kematian mendadak.

Peningkatan kesadaran kesehatan, akses layanan medis yang lebih baik, dan edukasi berbasis sains dapat membantu masyarakat menghadapi kematian mendadak secara lebih rasional.

Namun, bukan berarti mematikan sisi spiritualitas yang kental dalam budaya Bali. Kearifan lokal terkait menjaga kesehatan mental dan spiritual, seperti keseimbangan “sekala-niskala” atau dunia nyata dan dunia tak kasat mata, tetap bernilai.

Justru dengan memadukan pengetahuan medis dan kearifan lokal, masyarakat bisa membangun pemahaman yang lebih holistik tentang kesehatan dan kematian.***