Terjebak di Antartika, Ilmuwan Alami Gangguan Mental dan Sulit Dievakuasi - Beritakarya.id

Terjebak di Antartika, Ilmuwan Alami Gangguan Mental dan Sulit Dievakuasi

Insiden mencekam terjadi di pangkalan penelitian Sanae IV, milik Afrika Selatan, di kawasan terpencil Antartika. Seorang ilmuwan dilaporkan mengalami gangguan mental hingga bertindak agresif terhadap rekan satu timnya, menciptakan ketakutan di antara para peneliti lainnya.

Peristiwa ini terungkap setelah salah satu ilmuwan mengirim email darurat, meminta bantuan segera karena tindakan individu tersebut semakin tidak terkendali. Kekhawatiran utama adalah keselamatan seluruh tim yang terjebak di dalam pangkalan, jauh dari peradaban.

“Yang disesalkan, tindakannya meningkat sampai taraf menyeramkan. Secara spesifik, dia menyerang salah satu anggota, yang adalah pelanggaran berat keamanan pribadi dan norma-norma pekerjaan,” demikian bunyi email yang dikirim dari pangkalan riset itu.

Namun, meskipun situasi dianggap berbahaya, tim penyelamat tidak akan segera dikirim ke lokasi. Evakuasi baru akan dilakukan sesuai jadwal semula, yaitu pada bulan Desember saat musim panas di Antartika tiba. Kapal penyelamat harus berlayar dari Afrika Selatan, menempuh perjalanan selama 15 hari untuk mencapai pangkalan tersebut.

Terpencil dan Ekstrem, Evakuasi Menjadi Tantangan Besar

Pangkalan Sanae IV terletak sekitar 4.000 kilometer dari Afrika Selatan, dikelilingi lanskap es yang tak berujung dan terpaan angin kencang yang bisa mencapai kecepatan ekstrem. Suhu di kawasan ini dapat anjlok hingga minus 40 derajat Celcius, membuat setiap upaya penyelamatan menjadi sulit dan berisiko tinggi. Selain faktor cuaca, biaya untuk mengevakuasi tim juga sangat mahal.

Di tengah kondisi ini, Departemen Kehutanan, Perikanan, dan Lingkungan Hidup Afrika Selatan (DFFE) menyatakan bahwa situasi di pangkalan saat ini telah lebih terkendali. Pelaku insiden tersebut telah meminta maaf dan menerima bimbingan psikologis secara jarak jauh.

“Dia sudah menulis permintaan maaf formal ke korban dan ke seluruh anggota tim. Departemen segera menanggapi dengan melibatkan individu itu dengan profesional dalam rangka mediasi dan memulihkan hubungan di pangkalan,” ujar perwakilan DFFE, dikutip dari CBS.

Dampak Isolasi Ekstrem terhadap Psikologi Manusia

Insiden ini menyoroti efek isolasi ekstrem terhadap mental manusia. Para ilmuwan yang dikirim ke Antartika telah melalui serangkaian seleksi ketat, termasuk uji psikologi, sebelum menjalani misi. Namun, tekanan hidup di lingkungan ekstrem dapat memicu perubahan perilaku yang tidak terduga.

“Ketika sesuatu yang buruk terjadi di situasi isolasi, sering hal-hal kecil meledak menjadi konflik,” jelas Craig Jackson, profesor psikologi dari Birmingham City University.

Ia juga menambahkan bahwa di tempat seperti Antartika, ketidaksepakatan kecil mengenai hierarki, beban kerja, atau bahkan hal remeh seperti jadwal waktu luang dan porsi makanan bisa berkembang menjadi pertikaian besar yang sulit dikendalikan.

Kejadian ini menjadi pengingat betapa beratnya tantangan yang dihadapi para ilmuwan di daerah terpencil seperti Antartika. Mereka tidak hanya berjuang melawan kondisi alam yang ekstrem, tetapi juga menghadapi tekanan mental yang bisa berubah menjadi ancaman bagi diri sendiri maupun rekan setim.