Misteri Antartika: Keheningan yang Mengusik Kewarasan Ilmuwan - Beritakarya.id

Misteri Antartika: Keheningan yang Mengusik Kewarasan Ilmuwan

Antartika, benua beku yang kerap dianggap sebagai tempat penelitian ilmiah yang penuh pesona, ternyata menyimpan tantangan psikologis yang tidak terduga. Baru-baru ini, sebuah insiden mengejutkan terjadi di pangkalan penelitian Afrika Selatan, Sanae IV, di mana salah satu anggota tim ilmuwan diduga menjadi agresif dan menyerang rekan-rekannya. Situasi ini menggambarkan bagaimana kondisi ekstrem di Antartika dapat mendorong manusia hingga ke batas mental mereka.

Tekanan Mental di Benua Beku

Dr. Herman Van Niekerk, seorang ahli geologi dari Universitas Johannesburg, baru saja menyelesaikan ekspedisi dua bulan di Antartika dan membagikan pengalamannya. “Antartika sering diromantisasi, tapi ketika orang menyadari apa yang menunggu mereka, yah, tak banyak orang merasa mampu melakukannya,” ungkapnya kepada The Telegraph.

Menurutnya, tidak semua orang mampu bertahan di tengah isolasi ekstrem, cuaca yang tidak bersahabat, serta hilangnya perspektif visual akibat lanskap putih yang tanpa batas. “Saya telah membawa mahasiswa ke sana dan beberapa dari mereka tak bisa menghadapi isolasi, cuaca ekstrem dan menakutkan, perspektif yang hilang ketika Anda tidak dapat menilai jarak dalam warna putih,” tambahnya.

Ancaman di Tengah Isolasi

Kondisi di pangkalan penelitian itu pun semakin mencekam setelah salah satu ilmuwan dikabarkan bertindak kasar terhadap rekan-rekannya. Dalam sebuah email yang dikirim oleh salah satu anggota tim yang merasa terancam, terungkap bahwa individu tersebut melakukan kekerasan fisik, ancaman, serta pelecehan. “Saya tetap sangat khawatir tentang keselamatan saya sendiri, terus-menerus bertanya apa saya mungkin jadi korban berikutnya,” bunyi email tersebut.

Meski semua anggota ekspedisi telah menjalani pemeriksaan psikologis sebelum dikirim ke Antartika, hal itu tidak menjamin stabilitas mental mereka saat menghadapi isolasi berkepanjangan. Dr. Herman Van Niekerk menegaskan bahwa situasi di lapangan bisa sangat berbeda dibandingkan prediksi awal. “Tetapi Anda tidak dapat memprediksi bagaimana Antartika akan memengaruhi orang-orang dalam kenyataan ketika tidak ada kehidupan sejauh bermil-mil,” jelasnya.

Tantangan Hidup di Pangkalan Sanae IV

Pangkalan Sanae IV terdiri dari tiga blok utama dengan fungsi berbeda. Blok A digunakan untuk laboratorium, akomodasi, dan fasilitas kesehatan. Blok B berisi ruang hiburan seperti bar, ruang permainan, serta bioskop mini. Sementara itu, Blok C menjadi pusat operasional dengan generator, penyimpanan air, dan sistem pemurnian.

Aturan ketat diberlakukan, termasuk pembatasan konsumsi alkohol yang tertulis dalam daftar peraturan di ruang makan. “Anda mengambil apa yang Anda butuhkan dan harus membuat cadangan makanan bertahan sepanjang musim,” ujar Herman.

Selain tantangan fisik dan mental, interaksi sosial juga bisa memengaruhi kehidupan di pangkalan. Meskipun jarang terjadi, hubungan romantis kadang-kadang berkembang di sana. “Mereka manusia dan Anda tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi. Hubungan memang dimulai di sana. Saya tahu orang-orang yang berada di sana pada tahun 2016-17. Mereka bertemu dan menikah dan sekarang punya dua anak,” tambahnya.

Bahaya yang Tidak Terlihat

Salah satu tantangan terbesar adalah ketika tim ekspedisi harus keluar dari pangkalan menggunakan mobil salju. Medan yang penuh dengan celah es yang tidak terlihat serta badai yang datang tiba-tiba menjadikan perjalanan ini berisiko tinggi. “Terutama ketika saya keluar dengan mobil salju. Itu meresahkan karena Anda tidak dapat melihat celah-celah es. Badai juga datang sangat cepat, bahkan di musim dingin. Ada banyak hal tidak diketahui,” katanya.

Saat ini, dengan musim dingin Antartika yang semakin menggigit, opsi evakuasi menjadi hampir mustahil. “Butuh 10-14 hari dengan perahu dan kemudian naik helikopter jika cuaca memungkinkan di musim panas. Musim dingin akan sulit. Saya rasa kami takkan melihat orang-orang itu lagi hingga Desember,” pungkasnya.